Daftar Blog Saya

Kamis, 27 Januari 2011

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP PERUBAHAN SIFAT BENDA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI di KELAS V SDN KAMAL KECAMATAN TANJUNGMEDAR KABUPATEN SUMEDANG

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP PERUBAHAN SIFAT BENDA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI
di KELAS V SDN PADAMULYA KECAMATAN TANJUNGMEDAR KABUPATEN SUMEDANG



Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah
Pemantapan Kemampuan Profesional
PDGK (4501)





Image36




Di Susun oleh :
                                                Nama                    : YANA HERYANA

NIM                      : 816921374

Program Studi     : 089/S1 PGSD

Pokjar                  : SDN Sukaraja II Sumedang

Masa Registrasi   : 2010.1




PROGRAM PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ BANDUNG
2010

 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan salah satu tindakan edukatif yang dilakukan guru di dalam kelas melalui proses pembelajaran dengan tindakannya berorientasikan pada pengembangan diri atau pribadi siswa secara utuh, artinya terjadi pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam diri siswa. Proses pembelajaran merupakan salah satu faktor penting untuk memperoleh hasil yang baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai guna meningkatkan kualitas belajar siswa. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru harus benar-benar kompenten dalam menciptakan aktivitas pembelajaran melalui serangkaian kegiatan untuk memberikan pengalaman belajar yang berkaitan dengan aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor.
Adapun salah satu disiplin ilmu yang diajarkan di sekolah dasar adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pembelajaran IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
IPA secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Darmojo (dalam Samatowa, 2006: 2) bahwa, “Secara singkat IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya”. Kemudian Nash, 1993 (dalam Samatowa, 2006: 2) juga mengungkapkan sebagai berikut :
IPA itu adalah suatu cara atau metode untuk mengamati alam yang bersifat analisis, lengkap, cermat serta menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena lain, sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang diamatinya.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa hakikat pembelajaran IPA yaitu membahas tentang berbagai gejala alam yang disusun secara sistematis dan didasarkan pada pendekatan empirik dengan anggapan bahwa alam semesta ini dapat dipelajari, dipahami dan dijelaskan melihat suatu proses tertentu, seperti pengamatan (observasi), percobaan (eksperimen), dan analisis yang rasional.
Dengan demikian, IPA bukan hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta atau konsep-konsep yang harus dihapal, melainkan terdiri atas proses berpikir secara aktif untuk mempelajari gejala-gejala alam yang belum dapat diterangkan melalui suatu penemuan.
Sesuai dengan hakikatnya tersebut, pembelajaran IPA di Sekolah Dasar hendaknya diselenggarakan melalui pengalaman langsung (learning by doing). Dengan cara belajar mengalami langsung, daya ingat siswa akan menjadi lebih kuat, karena siswa melakukan sendiri percobaan-percobaan dengan menggunakan media belajar yang ada di lingkungannya.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Piaget (dalam Samatowa, 2006: 12) bahwa :
Pengalaman langsung yang memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan kognitif anak. Pengalaman langsung anak terjadi secara spontan sejak lahir sampai anak berumur 12 tahun. Efisiensi pengalaman langsung tergantung pada konsistensi antara hubungan metode dan objek dengan tingkat perkembangan kognitif anak. Anak akan siap untuk mengembangkan konsep tertentu hanya bila anak telah memiliki struktur kognitif (skemata) yang menjadi prasyaratnya, yakni perkembangan kognitif yang bersifat hierarkis dan integratif.

Pendidikan IPA juga diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam proses pembelajarannya diarahkan untuk ”mencari tahu” dan ”berbuat” dengan menekankan pada pemberian pengalaman langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah agar siswa menemukan sendiri bahan pembelajaran berdasarkan hasil pengamatannya sehingga materi yang dipelajari lebih membekas pada diri siswa. Melalui pemberian pengalaman langsung juga dapat membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar secara ilmiah.
Melalui pembelajaran seperti itu, siswa dilatih untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam melakukan berbagai praktikum, sehingga penguasaan konsep akan lebih mudah dan pembelajaranpun akan menjadi lebih bermakna (meaningful learning).
Selain itu, dengan pembelajaran melalui pengalaman langsung seperti disebutkan di atas, siswa dapat mengembangkan sikap ilmiah dan sistem nilai dalam proses keilmuannya. Sikap ilmiah tersebut meliuputi sikap kritis, hasrat ingin tahu, hati-hati, tekun, kreatif untuk penemuan baru, berpikiran terbuka, sensitif terhadap lingkungan dan bekerjasama dengan orang lain. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Gega (dalam Bundu, 2006: 19) bahwa pada tingkat Sekolah Dasar ada empat sikap yang perlu dikembangkan, yakni (1) sikap ingin tahu (curioucity), (2) penemuan (inventiveness), (3) berpikir kritis (critical thinking), (4) teguh pendirian (presistence). Semua sikap ilmiah tersebut relevan dengan karakteristik pembelajaran IPA, sehingga sangat penting untuk dimiliki siswa dalam upaya mengembangkan kepribadiannya.
Oleh karena itu, pembelajaran IPA di SD/MI hendaknya menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah melalui percobaan-percobaan yang materinya dihubungkan dengan konsepsi awal (skemata) siswa sebagaimana yang tercantum dalam standar isi kurikulum.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD berdasarkan Kurikulum KTSP merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada kemampuan bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran IPA di SD bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut :
1.      Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2.      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4.      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5.      Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6.      Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7.      Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan ke SMP/MTs. (Depdiknas, 2008: 148).

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 IPA Kelas V, terdapat indikator yang menunjukkan bahwa siswa kelas V harus mampu mengidentifikasi benda-benda yang dapat kembali dan tidak dapat kembali ke wujud semula setelah mengalami perlakuan dan menyimpulkan benda yang dapat kembali dan tidak dapat kembali kewujud semula setelah mengalami perubahan. Namun kenyataan di lapangan, siswa kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar  yang berjumlah 28 orang, 12 perempuan dan 16 laki-laki, sebagian besar mengalami beberapa kesulitan sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan tidak tercapai dengan optimal.
Sebagaimana hasil observasi yang dilakukan pada pembelajaran IPA tentang konsep perubahan sifat benda di kelas V SD Negeri Padamulya pada hari kamis tanggal 25 Februari 2010, diperoleh data kinerja guru dan aktivitas siswa sebagai berikut :
Tabel 1.1
Hasil Observasi Terhadap Kinerja Guru dan Aktivitas Siswa

Kinerja Guru
Aktivitas Siswa
Sebelum  memulai pembelajaran, guru menyuruh siswa untuk membaca materi pada buku paket.
Hanya sebagian kecil siswa yang membaca materi tersebut, sebagian besarnya malah asyik bersenda gurau.
Pada kegiatan apersepsi, guru tidak menggali pengetahuan awal siswa secara maksimal serta tidak mengkaitkan materi pelajaran dengan materi sebelumnya sehingga materi yang diterima siswa seperti bahan ajar yang baru.
Pembelajaran dimulai dari penjelasan guru, tidak berangkat dari pengetahuan awal masing-masing siswa sehingga terdapat sebagian siswa yang kurang begitu antusias dan terlihat kesulitan mengikuti pembelajaran.

Guru tidak menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa setelah pembelajaran selesai sehingga siswa tidak mengetahui tujuan yang harus dicapai pada pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda.
Siswa tidak mengetahui tujuan yang harus dicapai setelah pembelajaran selesai.

Guru hanya menjelaskan konsep yang terdapat dalam buku ajar dengan menggunakan metode ceramah tanpa melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan pembahasan secara verbal.

Konsentrasi siswa saat mendengarkan penjelasan guru tidak terpusat, sebagian besar siswa tidak memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru, hanya beberapa orang saja yang terlihat memperhatikan, hal ini ditandai dengan adanya siswa yang asyik dengan kegiatan sendiri-sendiri seperti: menggambar, curat-coret, dan asyik memainkan mainan.
Pengelolaan kelas tidak optimal, siswa duduknya klasikal secara individual, kegiatan diskusi hanya dilakukan dengan teman sebangku.

Sebagian besar siswa kurang memahami konsep dari materi yang dibahas, selain karena buku paketnya terbatas, tidak ada kesempatan agar siswa dapat lebih mengembangkan kreatifitas dan pengetahuannya melalui diskusi kelompok yang heterogen.

Sebagai tahap evaluasi, guru menyuruh siswa mengerjakan sejumlah soal.
Siswa merasa kesulitan dalam menyelesaikan soal yang diberikan guru terutama dalam membuat kesimpulan.

Adapun perolehan hasil belajar siswa pada saat dilakukan observasi pada pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda adalah sebagai berikut:
Tabel. 1.2
Data Hasil Tes Tertulis
No
Nama Siswa
No Soal
Jml Skor

Nilai

Ketuntasan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
T
BT
1
Andri Septiana
1
1
0
1
1
1
1
1
0
0
7
70
T

2
Anita Sari
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
7
70
T

3
Arifin
1
1
0
0
0
1
1
1
0
0
5
50

BT
4
Cepi Rohdiana
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
7
70
T

5
Dede Suryadi
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
7
70
T

6
Devi Intan
1
1
1
0
0
1
0
1
0
0
5
50

BT
7
Enggal Lalan
1
1
0
0
0
0
0
1
0
0
3
30

BT
8
Fitriani
1
1
1
1
1
0
1
1
0
0
6
70
T

9
Fifi Nuradiana
1
1
1
0
0
1
1
1
0
0
6
60

BT
10
Idan Royani
1
1
1
0
0
1
0
1
0
0
5
50

BT
11
Ita Nurlela
1
1
1
0
0
1
0
1
0
0
5
50

BT
12
Iqbal Maulana
1
1
1
1
0
1
0
1
0
0
6
60

BT
13
Lina Nurlinasari
1
1
0
0
0
0
0
1
0
0
3
30

BT
14
Martiningsih
1
1
0
1
0
1
0
1
0
0
5
40

BT
15
Melani
1
1
0
0
0
1
1
1
0
0
5
50

BT
16
Mesy Fitri
1
1
1
1
0
0
1
1
0
1
7
70
T

17
Moh. Ramdani
1
0
0
1
1
1
0
0
1
1
6
60

BT
18
Novian Rosmiati
1
1
1
0
0
1
1
1
0
0
6
60

BT
19
Rifki Renaldi
1
1
1
0
0
1
0
1
0
0
5
50

BT
20
Rizal Zaelani
1
1
1
0
0
1
0
1
0
0
5
50

BT
21
Siti Nurjanah
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
6
90
T

22
Sofian
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
8
80
T

23
Susi Nurhasanah
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
8
80
T

24
Taufik Budiman
1
0
1
1
1
0
0
0
1
1
6
60

BT
25
Tomi
1
0
1
0
1
0
0
1
1
1
6
60

BT
26
Widaningsih
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
8
80
T

27
Zaenal
1
1
0
1
1
0
0
0
1
1
6
60

BT
28
Nurhakim
1
0
1
0
1
0
0
1
1
1
6
60

BT
Jumlah
10
18
Presentase (%)
35,7 %
64,3%

Keterangan :
T (Tuntas)                  : nilai > 66,67
BT (Belum Tuntas)   : nilai < 66,67
Kriteria penilaiannya sebagai berikut:
a.       Soal terdiri dari 10 nomor
b.      Setiap soal memiliki skor 10
c.       Skor ideal (SI) adalah 100
d.      Nilai didapat dari skor yang diperoleh dibagi skor ideal hasilnya dikalikan 100 atau dengan rumus berikut
NA =
e.       KKM =  66,7
Dengan penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebagai berikut.
1)      Kompleksitas adalah 2.
2)      Daya dukung adalah 2.
3)      Intake adalah 2.
Setelah kompleksitas, daya dukung, dan intake ditentukan, maka diperoleh KKM sebagai berikut.
KKM =  x 100
KKM =  x 100
KKM = 66,67
Berdasarkan penghitungan KKM, maka nilai minimal yang harus dicapai oleh siswa pada pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda di kelas V SD Negeri Padamulya adalah 66,67. Siswa yang melewati KKM yang ditetapkan maka dikategorikan telah berhasil mencapai target.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, maka diperoleh data sebagai berikut: pada pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda, dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa belum dapat menyimpulkan perubahan sifat pada benda-benda yang telah mengalami perubahan wujud setelah mengalami perlakuan tertentu. Hal tersebut terlihat pada hasil pekerjaan siswa dari 28 orang siswa di kelas V, hanya 10 orang atau 35,71% yang dinyatakan tuntas berdasarkan KKM yang telah ditetapkan, sedangkan 18 orang siswa lainnya atau 64,28% siswa masih di bawah KKM dan dinyatakan belum tuntas.
Berdasarkan gambaran pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda di kelas V SD Negeri Padamulya kurang berhasil dengan baik dilihat dari segi proses pembelajaran maupun hasil yang dicapai siswa.
Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran agar hasil belajar siswa dapat meningkat sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan pada siswa dalam memahami konsep perubahan sifat benda yaitu:
1.      Motivasi belajar dan keaktifan siswa kurang karena pembelajaran yang cenderung lebih didominasi oleh guru sementara siswa tidak dilibatkan langsung dalam pembelajaran.
2.      Siswa kurang memahami tujuan dari konsep pembelajaran karena kurangnya stimulus dari guru dalam mengarahkan siswa ke dalam masalah yang sedang dipelajari.
3.      Metode pembelajaran yang digunakan guru kurang tepat hanya menggunakan metode ceramah sementara kegiatan pembelajaran lebih menuntut untuk melakukan percobaan yang secara langsung dialami oleh siswa.
4.      Pengeksplorasian media dan alat bantu belajar kurang karena guru hanya menggambar di papan tulis dan tidak menyediakan alat/bahan untuk kegiatan praktikum.
5.      Siswa kesulitan dalam menyimpulkan hasil dari suatu percobaan pada konsep perubahan sifat benda karena pada proses pembelajaran tidak dilakukan kegiatan percobaan, siswa hanya disuruh untuk mengira-ngira hasil percobaan tersebut berdasarkan pemahaman dan pengalamannya.
6.      Pembelajaran terasa monoton dan kurang bermakna bagi siswa karena kurang optimalnya guru dalam mengupayakan situasi belajar yang lebih kondusif.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Trianto (2007: 109)  mengemukakan bahwa: ”Pengetahuan dan keterampilan siswa diharapkan bukan hasil mengingat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri”. Merujuk pada penjelasan tersebut di atas serta menanggapi masalah yang terjadi pada saat kegiatan pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda di kelas V SDN Padamulya, maka akan dicobakan upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri.
Pembelajaran model inkuiri menyediakan beranekaragam pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan keterampilan untuk memecahkan masalah, pengambilan keputusan, dan menentukan konsep dalam suatu masalah sehingga memungkinkan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru.
Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis dan analitis sehingga siswa dapat merumuskan sendiri hasil penemuannya. Menurut Sanjaya (2006), secara umum langkah-langkah model pembelajaran inkuiri melalui tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut.
1.      Orientasi
2.      Merumuskan masalah
3.      Merumuskan hipotesis
4.      Mengumpulkan data
5.      Menguji hipotesis
6.      Merumuskan kesimpulan
Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan sebagaimana terurai di atas guna mencapai tujuan dasar IPA di SD, pembelajaran IPA harus dimodifikasi agar siswa dapat dengan mudah mempelajari dan memahaminya. Pembelajaran IPA juga harus mampu memberdayakan siswa agar dapat berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do) sehingga mampu membangun pengetahuan yang memadai (learning to know) untuk meningkatkan kepercayaan diri dan memiliki jati diri (learning to be) dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (learning to live together) dan lingkungan fisiknya.
Berdasarkan pemikiran itulah peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian tentang penerapan model inkuiri dalam pembelajaran IPA tentang konsep perubahan sifat benda. Dengan keyakinan bahwa permasalahan yang dialami oleh siswa pada pembelajaran IPA tentang konsep perubahan sifat benda dapat teratasi oleh penerapan model pembelajaran inkuiri. Oleh Karena itu, peneliti menuangkan penelitian ini dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan judul Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Perubahan Sifat Benda Melalui Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri di Kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang”.

B.     Rumusan Masalah
Dari pembahasan latar belakang masalah di atas, maka timbul  permasalahan di antaranya sebagai berikut:
1.      Bagaimana gambaran perencanaan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang?
2.      Bagaimana gambaran pelaksanaan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang?
3.      Bagaimana gambaran hasil peningkatan belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang?

C.    Tujuan Penelitian
Penulisan penelitian ini memiliki beberapa tujuan yaitu :
1.    Untuk mengetahui gambaran perencanaan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang.
2.    Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang.
3.    Untuk mengetahui gambaran hasil peningkatan belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang.

D.    Manfaat Penelitian
Bagi siswa

1.    Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi konsep perubahan sifat benda.

2.    Memberikan suasana belajar yang lebih menyenangkan.

3.    Memperoleh hasil pembelajaran yang lebih bermakna.

4.    Meningkatkan minat, antusias, dan keaktifan siswa dalam pembelajaran
5.    Mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran
Bagi guru
1.      Memberikan gambaran tentang penerapan model inkuiri.
2.      Menjadikan bahan referensi bagi guru yang akan melaksanakan pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda
3.      Memberikan stimulus agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan model-model pembelajaran lainnya.

Bagi Sekolah
Memberikan konstribusi dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktek pembelajaran di sekolah.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Hakikat IPA
  1. Pengertian IPA
IPA merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris Natural Science secara singkat sering disebut Science. Science yaitu istilah yang mengacu pada masalah-masalah kealaman (nature), sehingga secara sederhana IPA didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala alam. Sekarang ini, di SD istilah IPA lebih dikenal dengan istilah sains.
Menurut Nash (Samatowa, 2006: 2) bahwa IPA adalah:
Suatu cara atau metode untuk mengamati alam. Cara IPA mengamati ini bersifat analisis, lengkap, cermat, serta menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena lain, sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang obyek yang diamatinya.

Sedangkan pengertian sains menurut Carin dan Sund (Bundu, 2006: 4) adalah “Suatu pengetahuan tentang alam semesta yang bertumpu pada data yang dikumpulkan melalui pengamatan dan percobaan sehingga didalamnya memuat produk, proses dan sikap manusia”.
Dengan demikian, sains merupakan ilmu empirik yang membahas tentang fakta dan gejala alam. Dalam sains terjadi penyelidikan yang terorganisir melalui pengamatan dan percobaan sehingga didalamnya memuat produk, proses dan sikap manusia untuk mencari pola atau keteraturan di alam dengan cara mengumpulkan informasi, dan mengorganisasikan informasi untuk selanjutnya dianalisa.
  1. Hakikat Pembelajaran IPA
Pada dasarnya manusia ingin tahu lebih banyak tentang IPA atau Sains, antara lain sifat sains, model sains, dan filsafat sains. Pada saat setiap orang mengakui pentingnya sains dipelajari dan dipahami, tidak semua masyarakat mendukung. Pada umumnya siswa merasa bahwa sains sulit, dan untuk mempelajari sains harus mempunyai kemampuan memadai seperti bila akan menjadi seorang ilmuan. Ada tiga alasan perlunya memahami sains antara lain, pertama bahwa kita membutuhkan lebih banyak ilmuan yang baik, kedua untuk mendapatkan penghasilan, ketiga karena tiap kurikulum menuntut untuk mempelajari sains. Mendefinisikan sains secara sederhana, singkat dan yang dapat diterima secara universal sangat sulit dibandingkan dengan mendefinisikan ilmu-ilmu lain.
Beberapa ilmuwan memberikan definisi sains sesuai dengan pengamatan dan pemahamannya. Carin (1993: 3) mendefinisikan science sebagai The activity of questioning and exploring the universe and finding and expressing it’s hidden order, yaitu “Suatu kegiatan berupa pertanyaan dan penyelidikan alam semesta dan penemuan dan pengungkapan serangkaian rahasia alam”.
Sains mengandung makna pengajuan pertanyaan, pencarian jawaban, pemahaman jawaban, penyempurnaan jawaban baik tentang gejala maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis (Depdiknas, 2002a: 1).
Belajar sains tidak sekedar belajar informasi sains tentang fakta, konsep, prinsip, hukum dalam wujud ‘pengetahuan deklaratif’, akan tetapi belajar sains juga belajar tentang cara memperoleh informasi sains, cara sains dan teknologi bekerja dalam bentuk pengetahuan prosedural, termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan metode ilmiah dan sikap ilmiah.
  1. IPA Sebagai Proses
“Proses sains adalah sejumlah keterampilan untuk mengkaji fenomena alam dengan cara-cara tertentu untuk memperoleh ilmu dan pengembangan ilmu itu selanjutnya” (Bundu, 2006: 12). Dengan keterampilan proses siswa dapat mempelajari sains sesuai dengan apa yang para ahli sains lakukan, yakni melaui pengamatan, klasifikasi, inferensi, merumuskan hipotesis dan melakukan eksperimen.
Penguasaan proses sains adalah perubahan dalam dimensi afektif dan psikomotor yakni sejauhmana siswa mengalami kemajuan dalam proses sains yang antara lain meliputi kemampuan observasi, klasifikasi, kuantifikasi, inferensi, komunikasi dan proses sains lainnya.
Samatowa (2006: 138) menjelaskan beberapa keterampilan proses di SD, yaitu:
Dalam pembelajaran sains di Sekolah Dasar perlu dikembangkan delapan keterampilan proses yaitu meliputi keterampilan mengamati, melakukan percobaan, mengelompokkan, menafsirkan hasil percobaan, meramalkan, menerapkan, mengkomunikasikan dan mengajukan pertanyaan.

Pembelajaran sains sebagai proses akan lebih bermakna bagi siswa dan pemahaman materi yang siswa dapatkan mampu diingat dalam waktu yang relatife lama. Semiawan (Bundu, 2006: 5) mengemukakan alasan pentingnya proses sains dikuasai siswa SD sebagai berikut:
(1) perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung sangat cepat sehingga tidak mungkin lagi mengajarkan fakta dan konsep kepada siswa, (2) siswa akan lebih mudah memahami konsep yang abstrak jika belajar melalui benda-benda kongkrit dan langsung melakukannya sendiri, (3) penemuan ilmu pengetahuan sifat kebenaran relatif, (4) dalamproses pembelajaran pengembangan konsep tidak bisa dipisahkan dari pengembangan sikap dan nilai.

  1. IPA Sebagai Produk
Sains sebagai produk menurut Sarkim (Bundu, 2006: 11) berisi “Prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori yang dapat menjelaskan dan memahami alam dan berbagai fenomena yang terjadi didalamnya”.
Iskandar (1996/1997: 3) mengungkapkan bahwa sains sebagai produk karena isinya merupakan kumpulan hasil kegiatan empirik dan analitik yang dilakukan para ilmuwan dalam bentuk:
a.       Fakta sains. Fakta adalah pertanyaan dan pertanyaan tentang benda yang benar-benar ada, atau peristiwa-peristiwa yang betul-betul terjadi dan sudah dibuktikan secara objektif.
b.      Konsep sains. Konsep adalah suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta sains yang saling berhubungan.
c.       Prinsip sains. Prinsip adalah generalisasi tentang hubungan diantara konsep-konsep sains.
d.      Hukum sains. Hukum sains adalah prinsip-prinsip yang sudah diterima kebenarannya yang meskipun sifatnya tentatif tetapi mempunyai daya uji yang kuat sehingga dapat tertahan dalam waktu yang relatif lama.
e.       Teori sains. Teori sains sering disebut juga teori ilmiah merupakan kerangka hubungan yang lebih luas antara fakta, konsep, prinsip dan hukum, sehingga merupakan model atau gambaran yang dibuat para ilmuwan untuk menjelaskan gejala alam.

5.      IPA Sebagai Sikap Ilmiah
Menurut Bundu sikap ilmiah merupakan sebagai berikut:
Sikap ilmiah adalah sikap yang dimiliki para ilmuwan dalam mencari dan mengembangkan pengetahuan baru misalnya obyektif terhadap fakta, hati-hati, bertanggung jawab, berhati terbuka, selalu ingin meneliti dan sebagainya (2006: 13).

Dawson (dalam Bundu, 2006: 13), mengungkapkan bahwa sikap ilmiah dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu:
Seperangkat sikap yang jika diikuti akam membantu proses pemecahan masalah, dan seperangkat sikap yang menekan sikap tertentu terhadap sains sebagai suatu cara memandang dunia serta dapat berguna bagi pengembangan karir dimasa datang.

Bundu (2006: 13) menguraikan lagi kelompok yang termasuk sikap ilmiah adalah sebagai berikut:
Kelompok pertama adalah: (a) kesadaran akan perlunya bukti ketika mengemukakan suatu pernyataan, (b) kemauan untuk mempertimbangkan interpretasi atau pandangan lain, (c) kemauan melakukan eksperimen atau kegiatan lainnya dengan berhati-hati, dan (d) menyadari adanya keterbatasan dalam penemuan keilmuan. Sedangkan sikap yang termasuk dalam perangkat kedua adalah: (a) rasa ingin tahu terhadap dunia fisik dan biologis serta cara kerjanya, (b) pengakuan bahwa IPA dapat membantu memecahkan masalah individu dan global, (c) memiliki rasa antusiasme untuk menguasai pengetahuan dengan metode ilmiah, (d) pengakuan pentingnya pemahaman keilmuan, (e) pengakuan bahwa sains adalah aktifitas manusia, dan (f) pemahaman hubungan antara sains dengan bentuk aktivitas manusia lainnya.
6.      Keterampilan Proses Dalam IPA
Keterampilan proses IPA untuk anak-anak didefinisikan oleh Paolo dan Marten (dalam Samatowa, 2006: 12) adalah : a) mengamati, b) mencoba memahami apa yang diamati, c) mempergunakan pengetahuan baru untuk meramalkan apa yang terjadi, d) menguji ramalan-ramalan di bawah kondisi-kondisi untuk melihat apakah ramalan tersebut benar.
Proses berpikir yang berkembang melalui tahap-tahap daur belajar ini mendorong perkembangan berpikir sietiko-dedukatif, dan kritis. Kemanapun menalar dan berpikir ilmiah pada anak.
Piaget dan pakar lainnya mendeskripsikan perkembangan konsep. Strategi ini terdiri atas tiga tahap yang berbeda : a) tahap eksplorasi, b) tahap pengenalan konsep, dan c) tahap penerapan konsep. Daur belajar yang mendorong perkembangan konsep IPA sebagai berikut :
a.       Eksplorasi yaitu anak mengalami (mengindera) obyek secara langsung. Pada langkah ini anak memperoleh informasi baru yang adakalanya bertentangan dengan konsep yang telah dimilikinya.
b.      Generalisasi yaitu menarik kesimpulan dari beberapa informasi (pengalaman) yang tampaknya bertentangan dengan yang telah dimiliki anak.
c.       Deduksi yaitu mengaplikasikan konsep yang baru (generalisasi) itu pada situasi dan kondisi baru.
7.      Tujuan IPA Diajarkan di SD
Tujuan mata pelajaran IPA yang tercantum dalam KTSP 2006 adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
a.       Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
b.      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman Konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
d.      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
e.       Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
f.       Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
g.      Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan ke SMP/MTs.

8.      Perubahan Sifat Benda
a.       Pengertian perubahan sifat benda
Sebuah benda dapat mengalami perubahan sifat akibat perlakuan tertentu seperti pemanasan, pendinginan, pembakaran, pembusukan dan perkaratan.
b.      Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sifat benda

1)      Pemanasan

Pemanasan adalah proses perubahan benda yang menyebabkan benda padat menjadi cair dan benda cair menjadi gas. Pemanasan mengakibatkan benda mengalami perubahan wujud. Benda padat apabila dipanaskan akan berubah menjadi cair dan benda cair apabila dipanaskan akan berubah menjadi uap air.

2)      Pendinginan

Pendinginan adalah proses perubahan benda yang menyebabkan perubahan gas menjadi cair dan benda cair menjadi padat.

3)      Pembakaran

Pembakaran adalah proses perubahan yang dapat menyebabkan benda mengalami perubahan bentuk, warna, kelenturan, dan bau.

4)      Pembusukan

Pembusukan adalah proses perubahan benda yang disebabkan oleh kuman dalam makanan. Pembusukan mengakibatkan benda mengalami perubahan bentuk, warna, dan bau.

5)      Perkaratan

Perkaratan adalah perubahan benda yang menyebabkan benda berkarat karena dibiarkan di udara terbuka dan di tempat yang lembab. Perkaratan dapat menyebabkan benda mengalami perubahan warna dan kekuatan.
c.       Jenis perubahan sifat benda
Perubahan pada benda dapat digolongkan menjadi perubahan yang dapat kembali ke wujud semula (sementara) dan perubahan benda yang tidak dapat kembali ke wujud semula (tetap).
1)      Perubahan benda yang dapat kembali ke wujud semula (sementara)
Image:rumus.jpgPada perubahan wujud yang dapat balik, benda yang mengalami perubahan dapat kembali ke bentuk semula. Salah satu contohnya adalah perubahan pada air. Air jika didinginkan akan menjadi es. Es ini apabila dipanaskan akan kembali menjadi air. Dalam hal ini perubahan air merupakan perubahan wujud yang dapat balik. Perhatikan diagram berikut ini!




2)      Perubahan benda yang tidak dapat kembali ke wujud semula.
Sebagian besar benda yang mengalami perubahan wujud tidak dapat kembali ke bentuk atau wujud semula. Apabila kertas dibakar maka kertas menjadi serpihan abu yang berwarna hitam. Serpihan abu yang berwarna hitam ini tidak dapat kembali menjadi kertas. Perubahan wujud kertas merupkan contoh perubahan wujud benda yang tidak dapat balik. Selain itu, perubahan beras menjadi nasi yang kita makan sehari-hari juga merupakan peubahan wujud benda yang tidak dapat dibalik. Hal ini disebabkan karena setelah beras di masak menjadi nasi, nasi tersebut tidak dapat kembali menjadi beras dengan cara apapun juga.

B.     Teori Belajar Yang Mendukung Pembelajaran IPA di SD
1.      Teori Belajar Bruner
2.      Teori Belajar Gagne
C.    Model Pembelajaran Inkuiri
1.      Pengertian Model Pembelajaran
Istilah model pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas dari pada strategi pembelajaran dan metode pembelajaran. Joyce (dalam Trianto, 2007: 5) menyatakan bahwa “Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain”.
Sedangkan pengertian model pembelajaran menurut Soekamto, dkk. (Trianto, 2007: 5) adalah:
Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.
Kemudian, Arends (dalam Trianto, 2007: 5-6) menjelaskan tentang model pembelajaran, yaitu “Istilah model pengajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksisnya lingkungannya, dan sistem pengelolaannya”.
Berdasarkan definisi model pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan pembelajaran yang disusun sebagai acuan atau pedoman yang berisi rencana kegiatan yang akan dilakukan dari awal sampai akhir pembelajaran, cara penyampaian pembelajaran, serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
2.      Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa inggris ”inquiry”, yang secara harafiah berarti penyelidikan. Piaget, dalam (Mulyasa, 2007: 108) mengemukakan bahwa metode inkuiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain. Model pembelajaran ini dikembangkan oleh seorang tokoh yang bernama Suchman. Suchman meyakini bahwa anak-anak merupakan individu yang penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu. Oleh karena itu, prosedur ilmiah dapat diajarkan secara langsung kepada mereka.
3.      Jenis-Jenis Pembelajaran Inkuiri
Sund and Trowbridge (dalam Mulyasa, 2007: 109) mengemukakan ada tiga macam metode inquiry sebagai berikut :
a.       Inquiry terpimpin (guide inquiry), peserta didik memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Pendekatan ini digunakan terutama bagi peserta didik yang belum berpengalaman, guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Dalam pelaksanaannya sebagian besar perencaan dibuat guru dan peserta didik tidak merumuskan permasalahan.
b.      Inquiry bebas (free inquiry), pada metode ini peserta didik melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuwan. Peserta didik harus dapat mengidentifikasikan dan merumuskan berbagai topik permasalahan yang hendak diselidiki.
c.       Inquiry bebas yang dimodifikasi (modified free inquiry) pada metode ini guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian peserta didik diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.
4.      Langkah-Langkah Pembelajaran Inkuiri
Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dapat mengkuti langkah-langkah sebagai berikut (Sanjaya, 2007: 201-205) :
a.       Orientasi.
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang penting, keberhasilan model ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi adalah :
1)      menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
2)      menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
3)      menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.
b.      Merumuskan masalah.
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya :
1)      masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.
2)      masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.
3)      konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah.
c.       Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
d.      Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam model pembelajaran ini mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
e.       Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yag diberikan. Menguji hipotesis berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
f.       Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
5.      Keunggulan Dan Kelemahan Pembelajaran Inkuiri
Sebagai suatu model pembelajaran, model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang tergolong baru di dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Oleh karena itu model pembelajaran inkuiri memiliki beberapa keunggulan dan juga memiliki kelamahan. Seorang guru yang ingin menggunakan model pembelajaran inkuiri harus mengetahui dengan jelas keunggulan dan kelemahan model pembelajaran ini. Model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang banyak dianjurkan karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain :
a.       Menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui model ini dianggap lebih bermakna.
b.      Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar.
c.       Merupakan model yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d.      Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Di samping memiliki keunggulan, model pembelajaran inkuiri mempunyai kelemahan, antara lain :
a.       Jika menggunakan model pembelajaran ini, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.      Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.       Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sering sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d.      Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran ini sulit diimplementasikan oleh setiap guru

D.    Teori Perkembangan Anak

Perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengaruh tersebut dapat positif, namun tidak mustahil pula menjadi negatif. Kita sebagai guru diharapkan dapat berbuat sesuatu yang mampu membesarkan dampak positif faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak.
1.      Teori Piaget (teori perkembangn kognitif)
            Menurut teori Piaget dalam Mega Wangi, 2004: 8-11), perkembangan kognitif manusia itu tumbuh secara kronologis melalui empat tahap tertentu yang berurutan. Keempat  tahap yang dimaksudkan oleh Piaget itu ialah :
a.       Tahap sensomotor (umur 0 tahun sampai 2 tahun)
b.      Tahap pra-operasional (umur 2 tahun sampai 7 tahun)
c.       Tahap operasi konkret (umur 2 tahun sampai sekitar 11-12 tahun atau lebih)
d.      Tahap formal (umur 11 tahun sampai dewasa).

Pada umumnya anak sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret (concrete operasional) sebagaimana tujuan dari teori perkembangan mental Piaget. Pada tahap ini anak dapat memahami operasi (logis) dengan bantuan benda-benda konkret atau dalam keadaan tertentu.
2.      Teori Erik Erikson (teori perkembangan emosi)
          Erik Erikson (1902-1994) berpendapat :
perkembangan emosi positif sangat penting dalam perkembangan jiwa anak dan sangat tergantung pada peran orang tua dan guru. Setiap anak akan dihadapkan pada 2 keadaan yang saling bertolak belakang; emosi positif dan negatif pada setiap tahap perkembangan. Seseorang akan mengalami konflik tarik menarik antara kedua emosi tersebut, keberhasilan dalam mengelola konflik itu terwujud apabila anak dapat mencapai emosi positif. (dalam Mega Wangi, 2004: 11-13)

3.      Teori Vigotsky (teori Sosio-kultur)
            Menurut Vigotsky, perkembangan intelektual anak mencakup bagaimana mengaitkan bahasa dengan pikiran. Pada awal perkembangan anak, antara bahasa dan pikiran tidak ada keterkaitan. Semakin sulit subyek yang sedang dipelajari anak, semakin sering anak-anak berbicara sendiri untuk mengerti apa yang sedang dipelajarinya. Jadi penggunaan bahasa bukan hanya sekedar alat untuk berekspresi yaitu sebuah refleksi mengenai obyek yang telah diketahui oleh anak menurut Piaget, tetapi juga alat bantu yang efektif dalam proses belajar. (dalam Mega Wangi, 2004: 13-15)

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN


A.    Subjek Penelitian
1.      Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di SD Negeri Padamulya yang terletak di desa Tanjungmedar Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang. Siswa kelas V dipilih sebagai subjek dalam penelitian karena kurang optimalnya pembelajaran IPA yang sesuai dengan tuntutan kurikulum tahun 2006, sehingga dengan adanya penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan penerapan model inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. Selain itu juga peneliti menilai perlu adanya sebuah inovasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas V agar kualitas pembelajaran siswa dapat meningkat sehingga diharapkan dapat memberikan dampak positif berupa peningkatan hasil belajar siswa.
2.      Waktu penelitian
Pelaksanana pembelajaran dan perbaikan dilaksanakan tiga kali pertemuan untuk masing-masing mata pelajaran. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.1
Jadwal Pelaksanaan PTK
Mata Pelajaran
Pertemuan
Waktu Pelaksanaan
IPA
Pertemuan Ke I
25 Februari 2010
Pertemuan ke II (Siklus I)
4 Maret 2010
Pertemuan ke III (Siklus II)
11 Maret 2010

3.       Kelas dan Karakteristik Siswa
Penelitian ini mengambil subyek seluruh siswa kalas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar  Kabupaten Sumedang, berjumlah 28 siswa yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan..
Latar belakang kehidupan sosial ekonomi orang tua siswa adalah  kalangan menengah ke bawah. Pendidikan orang tua siswa sangat bervariatif, mulai dari lulusan SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi. Begitu juga dengan mata pencaharian, tapi sebagian besar sebagai petani dan buruh.

B.     Deskripsi Per Siklus
1.      Prosedur penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Karena melalui penelitian tindakan kelas ini guru dapat melihat kembali apa yang telah dikerjakan, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Model PTK yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Mc Taggart, yaitu model siklus yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkelanjutan. Dalam setiap siklusnya terdiri dari tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, tahap refleksi, dan tahap perencanaan untuk pelaksanan siklus selanjutnya.
SIKLUS PTKAlur pelaksanaan tindakan kelas setiap siklus dapat dilihat pada bagan di bawah ini.


           






Gambar 2
Model Spiral Kemmis dan Mc. Taggart
(Wiriaatmadja, 2008: 66)
Dari bagan di atas prosedur penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tiga atau beberapa kali tindakan. Hal ini sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, sebagaimana telah didesain dalam penelitian tindakan.
  1. Tahap Perencanaan Tindakan
1)      Pendekatan kepada kepala sekolah SD Negeri Padamulya agar memberikan izin dan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan penelitian
2)      Mengadakan penelitian awal pada proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data-data awal berupa permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran.
3)      Mendiskusikan rencana Penelitian Tindakan Kelas sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di kelas V.
4)      Menyusun langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu tahap-tahap pembelajaran dengan menggunakan model inquiri.
5)      Menyusun lembar observasi kinerja guru dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
6)      Membuat alat evaluasi untuk mengukur keberhasilan siswa dalam memahami materi pelajaran.
  1. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini dilaksanakan tindakan penelitian yang berupa pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPA berdasarkan RPP yang telah dibuat sebelumnya dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. Tahap pelaksanaan tindakan ini terdiri dari enam langkah, yaitu:
Orientasi. Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang penting, keberhasilan model ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah
            Merumuskan masalah. Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan.
Merumuskan hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
Mengumpulkan data. Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam model pembelajaran ini mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
Menguji hipotesis. Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
Merumuskan kesimpulan. Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran.
  1. Tahap Observasi
Pada tahap ini dilakukan suatu kegiatan pengamatan langsung terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan dalam tindakan pelaksanaan.
Kegiatan observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hal-hal penting selama pembelajaran berlangsung, yang kemudian akan digunakan sebagai salah satu data yang akan dianalisa.
  1. Tahap Refleksi
Pada tahap ini data hasil observasi yang didapat selama pelaksanaan tindakan perbaikan dan data hasil belajar siswa dianalisis kembali sehingga dapat diketahui apakah pelaksanaan tindakan tersebut telah mencapai target proses dan target hasil atau masih memerlukan perbaikan-perbaikan.
2.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a.       Pedoman Observasi
Pedoman observasi adalah suatu pedoman atas pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis untuk mengetahui kinerja guru dan aktivitas siswa pada waktu tindakan pelaksanaan. Observasi ini digunakan untuk memperoleh gambaran interaksi antara guru dan siswa selama proses pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda. Dalam observasi dilengkapi dengan format pengamatan sebagai instrumen.
b.      Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara adalah suatu pedoman tanya jawab yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi melalui komunikasi secara langsung dengan responden dalam hal ini dilakukan kepada siswa, guru dan pembimbing berkenaan dengan gambaran pelaksanaan proses pembelajaran IPA tentang konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri. Wawancara ini dilakukan setelah proses pembelajaran dengan tujuan untuk memberikan gambaran pelaksanaan proses pembelajaran dan hasilnya.
c.       Tes Tertulis
Tes yaitu suatu alat atau prosedur yang sistematis bagi pengukuran sebuah sampel perilaku. Digunakan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan kemampuan siswa sebelum dan sesudah tindakan mengenai materi yang telah diajarkan.
Tes dilakukan pada akhir pembelajaran untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami konsep perubahan sifat benda. Tes tersebut terdiri dari lembar soal, lembar jawaban, dan kunci jawaban.
d.      Catatan Lapangan
Catatan lapangan digunakan untuk mencatat kejadian-kejadian yang penting selama penelitian berlangsung yang mungkin tidak terduga dan tidak direncanakan pada pedoman observasi.
e.       Lembar Kerja Siswa
Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembar kerja yang dibuat untuk mengarahkan siswa dalam mengamati atau melakukan kegiatan percobaan. LKS ini diberikan kepada siswa ketika akan dimulai percobaan.
3.  Teknik Pengolahan Data
a.    Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tahap pengumpulan data gari berbagai instrument penelitian yang meliputi kinerja guru dan aktivitas siswa yang selanjutnya dilakukan pengkajian dan analisis.
1)     Teknik pengolahan data proses
a)      Hasil observasi kinerja guru
Merlalui observasi terhadap kinerja guru dapat diperoleh data melalui kelebihan dan kekurangan guru dalam proses pembelajaran.
b)      Hasil observasi aktivitas siswa
Observasi terhadap aktivitassiswa dilaksanakan pada saat pembelajaran, untuk mengetahui keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
2)     Teknik pengolahan data hasil
            Tes diberikan kepada siswa untuk mengukur pemahaman siswa. Ketuntasan siswa didasarkan KKM (kriteria ketuntasan belajar), dengan memperhatikan kompleksitas, daya dukung dan intake siswa. KKM itu sendiri merupakan kriteria minimal yang harus dicapai atau dikuasai oleh siswa untuk semua mata pelajaran. Setiap siswa dinyatakan lulus atau tuntas ketika memperoleh nilai 62 ke atas.
3)      Analisis Data
Dalam penelitian ini, data yang diperoleh dikumpulkan untuk dipelajari dan dianalisis. Rangkuman data yang dianggap penting dan dapat menguatkan penelitian disajikan dalam bentuk deskriptif dan tabel. Setelah mengumpulkan data dan memperoleh bukti-bukti yang kuat mengenai hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan data-data tersebut.
4)      Validasi data
            Validasi data menurut Hopkins (Wiraatmadja, 2005) sebagai berikut:
a)      Member check yaitu memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara dari narasumber, siapa pun juga (kepala sekolah, guru, teman sejawat guru, siswa dan lain-lain) apakah keterangan atau informasi itu tetap sifatnya atau tidak berubah sehingga dapat dipastikan keajegannya dan data itu diperiksa kebenarannya.
b)      Triangulasi, yaitu memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk atau analisis dengan membandingkan hasil orang lain, misalnya mitra peneliti lain yang hadir dan menyaksikan situasi yang sama
c)      Expert opinion, yaitu dilakukan dengan meminta nasihat kepada pakar, dalam hal ini pembimbing penelitian. Pembimbing akan memeriksa semua kegiatan penelitian dan memberikan arahan atau judgement terhadap masalah-masalah penelitian yang peneliti kemukakan
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil  Penelitian
1.    Paparan Data Tindakan Pembelajaran  IPA
a.    Paparan Data Tindakan Siklus I
1).  Paparan data perencanaan siklus I
   Kegiatan perencanaan tindakan siklus I adalah :
a).  Membuat rencana perbaikan pembelajaran siklus I. Dalam rencana perbaikan siklus I kegiatan penelitian difokuskan pada tujuan perbaikan yaitu agar siswa dapat menunjukan adanya perubahan sifat pada benda melalui percobaan dengan tepat dan menjelaskan perubahan sifat benda sementara dan tetap
b).  Membuat lembar observasi siswa untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas V SDN Padamulya ketika model pembelajaran inkuiri diaplikasikan.
2).   Paparan data pelaksanaan siklus I
            Siklus I dilaksanakan dalam satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 4 Maret 2010, dimulai pukul 07.30-08.40 WIB. Berikut adalah langkah-langkah dari tahap pelaksanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan model inkuiri :


No
Tahapan
Aktivitas
Guru
Siswa
1.
Kegiatan Awal
(10 menit)

a.  Orientasi
a.       Salam pembuka.
b.      Mengecek kehadiran siswa.
c.       Mengkondisikan siswa ke arah pembelajaran yang kondusif dengan merapikan tempat duduk siswa serta menginformasikan hal-hal yang akan dilakukan dalam pembelajaran.
a.      Menjawab salam.
b.      Menyebutkan siswa yang sekolah dan siswa yang tidak sekolah.
c.      Merapikan tempat duduk kemudian memperhatikan informasi yang dipaparkan oleh guru.


No
Tahapan
Aktivitas
Guru
Siswa


d.      Mengajukan pertanyaan atau masalah melalui sejumlah pertanyaan yang akan terjawab setelah melakukan praktikum.
§  Apakah benar benda dapat mengalami perubahan?
§  “Benarkah benda dapat berubah setelah mendapatkan perlakuan tertentu?”
d.     Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.
2.
Kegiatan Inti (50 Menit)

b.      Merumuskan Masalah

a.       Memperlihatkan potongan gambar (puzzel).
b.      Menyuruh siswa untuk menyusun puzzel menjadi gambar yang utuh.
c.       Menyuruh siswa untuk memperhatikan gambar dari puzzel tersebut.
d.      Mengajukan pertanyaan:
  • Apakah yang terjadi pada saat lilin menyala?
  • Apa saja yang terbakar pada saat lilin dinyalakan?
  • Bagaimana perubahan yang terjadi pada lilin dan sumbu yang terbakar pada saat lilin menyala?
  • Apakah yang terjadi bila lilin yang sedang menyala ditiup hingga apinya padam?
e.       Memberikan penjelasan tentang konsep perubahan sifat benda berdasarkan gambar puzzel tersebut.
a.       Memperhatikan potongan puzzel.
b.      Menyusun potongan puzzel menjadi gambar yang utuh.
c.       Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.
d.      Memperhatikan penjelasan guru tentang konsep perubahan sifat benda.
c.       Merumuskan Hipotesis

Ditulis di papan tulis semua hipotesis yang dibuat oleh siswa berdasarkan perkiraan jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan oleh guru sebelumnya.
Membuat hipotesis
d.      Mengumpulkan Data

a.       Guru mendemonstrasikan perubahan sifat benda yang terjadi pada saat lilin menyala.
b.      Mengajukan pertanyaan kepada siswa:
§ Bagaimana perubahan pada bagian lilin yang terbakar?
§ Apakah yang terjadi pada lelehan lilin bila kemudian didiamkan beberapa saat di udara terbuka?
§ Apakah yang terjadi pada sumbu yang terbakar?
§ Apakah yang terjadi bila lilin yang sedang menyala ditiup hingga apinya padam?
§ Apakah lilin yang sudah meleleh jika dibiarkan beberapa saat di udara terbuka dapat kembali ke wujud semula?
§ Apakah sumbu yang terbakar jika ditiup dapat kembali ke wujud semula?
§ Apakah perbedaan dari perubahan yang terjadi pada bagian lilin yang meleleh dan sumbu yang terbakar?
a. Siswa memperhatikan
b. Menjawab pertanyaan
e.       Menguji Hipotesis

Pra Percobaan
a.   Membagi siswa ke dalam kelompok yang beranggotakan 3 orang siswa.
Kegiatan Percobaan
b.  Membagikan LKS kepada setiap kelompok.
c.   Membimbing siswa dalam melakukan percobaan.
Setelah Percobaan
d.  Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil percobaannya di depan kelas.
a.   Setiap siswa membilang dari angka 1-3, begitu seterusnya. Siswa dengan nomor yang sama bergabung dalam satu kelompok.
b.   Menerima LKS
c.   Melakukan percobaan.
d.  Mempresentasikan hasil percobaan di depan kelas
f.       Merumuskan kesimpulan

a.  Membimbing siswa dalam menyimpulkan kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan.
b. Memberikan penguatan dan penghargaan kepada siswa dan kelompok dengan memiliki kinerja yang bagus.
a. Merumuskan kesimpulan
b. Presentasi kelompok unggul menerima penghargaan dari guru.
3.
Kegiatan Akhir
(10 menit)
a.       Mengadakan penilaian
a. Mengerjakan soal tertulis

                 3). Paparan data hasil siklus I
            Setelah kegiatan belajar mengajar, penulis mengadakan tes akhir untuk mengetahui keberhasilan penggunaan metode inkuiri. Dari hasil tes tersebut maka diperoleh rincian nilai setiap siswa pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.1
Daftar Nilai Siklus I
NO
NAMA SISWA
NILAI
TAFSIRAN
T
BT
1.
Andri Septiana
70

2.
Anita Sari
70

3.
Arifin
70

4.
Cepi Rohdiana
80

5.
Dede Suryadi
70

6.
Devi Intan
50

7.
Enggal Lalan
50

8.
Fitriani
70

9.
Fifi Nuradiana
70

10.
Idan Royani
50

11.
Ita Nurlela
50

12
Iqbal Maulana
70

13
Lina Nurlinasari
70

14
Martiningsih
50

15
Melani
70

16
Mesy Fitri
80

17
Moh. Ramdani
70

18
Novian Rosmiati
70

19
Rifki Renaldi
60

20
Rizal Zaelani
50

21
Siti Nurjanah
90

22
Sofian
80

23
Susi Nurhasanah
80

24
Taufik Budiman
50

25
Tomi
50

26
Widaningsih
80

27
Zaenal
60

28
Nurhakim
60

               PERSENTASE
60,7%
39,3%

Dari daftar nilai di atas, walaupun ada peningkatan tetapi dapat dilihat bahwa masih ada anak yang mendapat nilai kurang dari yang seharusnya.
                 4). Refleksi siklus I
          Di dalam penggunaan metode inkuiri terdapat beberapa hambatan yang mengganggu proses belajar dan cara mengatasinya diantaranya :
a)      Ada beberapa siswa dalam kelompok langkah-langkah yang harus dilakukan dalam praktikum. Untuk mengatasi hal tersebut peneliti menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam praktikum, kemudian membimbing siswa dalam melakukan praktikum.
b)      Dalam melakukan praktikum, siswa bekerja sendiri-sendiri dalam kelompoknya. Untuk mengatasi hal tersebut peneliti mengingatkan siswa akan manfaat bekerja sama.
c)      Hasil tes yang  diperoleh pada siklus I mengalami peningkatan.
d)     Ada beberapa orang siswa yang motivasi belajarnya kurang.
e)      Ada beberapa orang siswa yang mendapat nilai kurang dari yang seharusnya
f)       Menganalisis data hasil belajar yang diperoleh dari hasil                        observasi
g)      Peneliti berdiskusi dengan praktikan mengenai proses dan hasil pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi untuk merencanakan tindakan perbaikan pada siklus II.
b.    Paparan Data Tindakan Siklus II
1). Paparan data perencanaan siklus II
            Berdasarkan  refleksi pada siklus I, hasil tindakan sudah cukup bagus namun belum sesuai dengan yang ditargetkan sehingga perlu dilakukan tindakan pada siklus berikutnya. Pada siklus II ini indikator yang hendak dicapai adalah mengidentifikasi benda-benda yang dapat kembali dan tidak dapat kembali ke wujud semula setelah mengalami perlakuan. Adapun perencanaan pada siklus II ini adalah sebagai berikut :
a)      Pelaksanaan kegiatan pada siklus II tidak jauh berbeda dengan siklus I, yaitu melaksanakan prosedur pembelajaran perubahan sifat benda dengan menerapkan model inkuiri dengan indikator keberhasilan yang dicapai yaitu siswa dapat mengidentifikasi benda-benda yang dapat kembali dan tidak dapat kembali ke wujud semula setelah mengalami perlakuan.
b)      Membuat  rencana perbaikan pembelajaran siklus II
c)      Membuat lembar observasi siswa.
2). Paparan data pelaksanaan siklus II
Siklus II dilaksanakan dalam satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 Maret 2010, dimulai pukul 07.30-08.40 WIB.
            Kegiatan pelaksanaan pada siklus II masih sama dengan kegiatan pelaksanaan pada siklus satu hanya saja pada siklus II ada perubahan dalam pelaksanaan praktikum dimana setiap kelompok difokuskan pada mengidentifikasi benda-benda yang dapat kembali dan tidak dapat kembali ke wujud semula setelah perlakuan.
                 3). Paparan data hasil siklus II
            Setelah kegiatan belajar mengajar, maka sebagai pengamatan peneliti mengadakan tes akhir untuk mengetahui tingkat keberhasilan. Berikut ini adalah rincian nilai setiap siswa :
Tabel 4.2
Daftar Nilai Siklus II
NO
NAMA SISWA
NILAI
TAFSIRAN
T
BT
1.
Andri Septiana
80

2.
Anita Sari
80

3.
Arifin
70

4.
Cepi Rohdiana
80

5.
Dede Suryadi
70

6.
Devi Intan
60

7.
Enggal Lalan
60

8.
Fitriani
80

9.
Fifi Nuradiana
70

10.
Idan Royani
50

11.
Ita Nurlela
60

12
Iqbal Maulana
80

13
Lina Nurlinasari
80

14
Martiningsih
60

15
Melani
80

16
Mesy Fitri
90

17
Moh. Ramdani
80

18
Novian Rosmiati
80

19
Rifki Renaldi
70

20
Rizal Zaelani
70

21
Siti Nurjanah
100

22
Sofian
90

23
Susi Nurhasanah
80

24
Taufik Budiman
70

25
Tomi
70

26
Widaningsih
90

27
Zaenal
70

28
Nurhakim
70

               PERSENTASE
82,2%
17,8%

            Dari daftar nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar yang dicapai dalam pembelajaran  IPA pada materi perubahan sifat benda dengan menggunakan metode diskusi hasilnya sangat memuaskan.
                 4). Refleksi siklus II
            Berdasarkan hasil analisis dan refleksi terhadap proses pembelajaran pada siklus II temuan-temuannya dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.       Siswa sudah dapat menguasai materi perubahan sifat benda, hal ini terlihat dari hasil evaluasi siswa.
b.      Keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran mengalami peningkatan.
c.       Siswa sudah mampu bekerjasama dalam kelompok.
d.      Guru sudah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
B.     Pembahasan
1.    Pembelajaran IPA
            Berdasarkan hasil belajar siswa pada pembelajaran awal dan perbaikan pembelajaran matematika diperoleh data nilai-nilai sebagai berikut :
Tabel 4.5
Daftar Perolehan Nilai IPA
No
Nama Siswa
Nilai
Pert. I
Pert. II (siklus I)
Pert. III (siklus II)
1
Andri Septiana
70
70
80
2
Anita Sari
70
70
80
3
Arifin
50
70
70
4
Cepi Rohdiana
70
80
80
5
Dede Suryadi
70
70
70
6
Devi Intan
50
50
60
7
Enggal Lalan
30
50
60
8
Fitriani
70
70
80
9
Fifi Nuradiana
60
70
70
10
Idan Royani
50
50
50
11
Ita Nurlela
50
50
60
12
Iqbal Maulana
60
70
80
13
Lina Nurlinasari
30
70
80
14
Martiningsih
40
50
60
15
Melani
50
70
80
16
Mesy Fitri
70
80
90
17
Moh. Ramdani
60
70
80
18
Novian Rosmiati
60
70
80
19
Rifki Renaldi
50
60
70
20
Rizal Zaelani
50
50
70
21
Siti Nurjanah
90
90
100
22
Sofian
80
80
90
23
Susi Nurhasanah
80
80
80
24
Taufik Budiman
60
50
70
25
Tomi
60
50
70
26
Widaningsih
80
80
90
27
Zaenal
60
60
70
28
Nurhakim
60
60
70
Persentase   Penguasaan Materi (%)
35,7 %
60,7%
82,2%

            Secara keseluruhan, penelitian mengenai penggunaan metode inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran pada materi perubahan sifat benda memberikan hasil yang positif yaitu adanya peningkatan pemahaman siswa. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.6
Tingkat Keberhasilan
No
Pertemuan
Tingkat Keberhasilan (KKM)
1
I
35,7 %
2
II
60,7%
3
III
82,2%

            Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada pertemuan ke satu, persentase tingkat keberhasilan penguasaan materi siswa hanya mencapai 35,7%, pada pertemuan ke dua (siklus I) mengalami peningkatan menjadi 60,7%, dan pada pertemuan ke tiga (siklus II) tingkat keberhasilan penguasaan materi siswa mencapai 82,2%. Adapun diagram tingkat keberhasilan yaitu sebagai berikut :
Diagram  4.1
Persentase Tingkat Keberhasilan IPA







BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian yang dilakukan dengan mengaplikasikan model pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.         Gambaran perencanaan penerapan model pembelajaran inkuiri
                 Perencanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri diawali dengan permohonan izin kepada kepala sekolah, kemudian mengadakan penelitian awal untuk memperoleh data awal berupa permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Langkah selanjutnya adalah menyusun rencana pelaksanaan perbaikan  pembelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri, mengadakan kolaborasi dengan teman sejawat mengenai cara melakukan tindakan dan  mengenalkan model pembelajaran inkuiri, menyiapkan instrumen pengumpul data untuk digunakan dalam tahap pelaksanaan tindakan, dan menetapkan cara pelaksanaan refleksi dan pelaku refleksi.

2.         Gambaran pelaksanaan penerapan model pembelajaran inkuiri
                 Kegiatan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran yang telah disusun dengan menggunakan metode inkuiri yang memiliki beberapa tahapan yaitu orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan merumuskan kesimpulan. Tahapan-tahapan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik ketika siklus I dan siklus II. Siswa pun di dalam proses pembelajaran terlihat aktif dan dapat bekerja sama dalam kelompoknya.
3.         Gambaran hasil peningkatan belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri.
                 Dengan perencanaan yang matang, hasil belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dapat meningkat. Hal ini terlihat dari persentase   penguasaan materi (KKM) dimana pada pertemuan pertama (sebelum model diujucobakan) hanya ada 10 siswa (35,7%) dari 28 orang yang lulus KKM. Pada siklus I (setelah model diujicobakan) ada 17 orang siswa (60,7%) yang lulus KKM dan pada siklus II siswa yang lulus KKM mencapai 23 orang (82,2%).

B.     Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri dan penggunaan metode simulasi untuk meningkatkan kemampuan menyimak cerita rakyat di kelas V SDN Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang, maka peneliti dapat mengemukakan beberapa saran, yaitu :
  1. Model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang tergolong baru di dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Seorang guru yang ingin menggunakan model pembelajaran inkuiri harus mengetahui dengan jelas model pembelajaran ini.
  2. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar. Untuk itu, model ini harus terus diberikan kepada siswa agar siswa terbiasa terhadap model ini. Tentunya disesuikan dengan mata pelajaran dan materi yang akan dipelajari.
3.      Model pembelajaran inkuiri merupakan salah satu model yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman
4.      Interaksi antara guru dan siswa harus lebih aktif agar pembelajaran menjadi lebih bermakna.
5.      Penggunaan metode yang bervariasi akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar